Karena sibuk sekali baik untuk pekerjaan, mengajar, dan mengurus keluarga, aku sekarang ini jarang baca buku. Tapi belum lama ini aku sudah menghabiskan buku The Da Vinci Code-nya Dan Brown yang kontroversial itu. Papiku tanya, "Buku apa itu?" Aku jawab, "Buku sesat." Hahaha…
Aku setuju buku ini memang bagus untuk karya fiksi, tapi yang jadi masalah, di bagian depan buku ditulis:
"FAKTA… semua deskripsi karya seni, arsitektur, dokumen, dan ritus rahasia dalam novel ini adalah akurat".
Ini membuat beberapa orang menganggap buku ini adalah "fiksi yang disusun atas dasar fakta". Tapi mana yang fakta, dan mana yang fiksi, batasannya tipis sekali, sehingga banyak pembaca yang menganggap yang fiksi adalah fakta.
Sudah banyak buku lain yang membahas yang mana yang fiksi maupun fakta dalam The Da Vinci Code, jadi tidak perlu terlalu panjang lebar di sini. Tapi aku mau menunjukkan bahwa beberapa yang seharusnya "fakta" ternyata malah "fiksi" karena tidak benar-benar akurat, seperti jumlah kaca jendela pada piramida terbalik di Louvre yang bukan 666 melainkan 673 (603 belahketupat dan 70 segitiga), kalau tidak percaya lihat di http://www.glassonweb.com/articles/article/94/
Terbukti bahwa Brown menyebut 666 untuk memberi bumbu sensasi, karena seperti ditulisnya pada buku itu, "permintaan aneh yang selalu menjadi topik panas di kalangan penggemar konspirasi yang menyatakan bahwa 666 adalah angka setan". Jadi kalau piramida itu saja sudah tidak akurat, apa lagi isi lainnya?
Sedikit komentar yang lebih rohani… dalam The Da Vinci Code bab 54:
… Teabing berdaham dan menyatakan, "Alkitab tidak datang dengan cara difaks dari surga."
"Maaf?"
"Alkitab adalah buatan manusia, Nona. Bukan Tuhan. Alkitab tidak jatuh secara ajaib dari awan. Orang membuatnya sebagai catatan sejarah dari hiruk-pikuk zaman, dan itu telah melibatkan penerjemahan, penambahan, dan revisi yang tidak terhitung. Sejarah tidak pernah punya versi pasti buku itu." …
Alkitab memang tidak datang dengan cara difaks dari surga, tidak ada ayat yang menyatakan hal itu! Alkitab memang ditulis oleh manusia, tetapi tidak sembarang manusia, tetapi manusia yang diilhami oleh Allah (Roh Kudus).
Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. (2Tim 3:16)
Sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah. (2Ptr 1:21)
Dorongan ini juga tidak dilakukan Allah dengan cara memaksa atau mendikte, tetapi Roh Kudus membimbing para penulis dengan memanfaatkan keterampilan pribadi mereka sendiri. Alkitab tidak ditulis oleh satu orang tetapi banyak orang — mulai dari raja sampai nelayan — dalam kurun waktu ribuan tahun, dan semua tetap harmonis dan berfokus pada berita yang sama yaitu Yesus Kristus. Kalau tidak ada bimbingan dari Roh Kudus hal ini tidak mungkin!
"Penerjemahan, penambahan, dan revisi yang tak terhitung"… wah ini sudah tendensius dan berlebihan. Alkitab yang kebanyakan dibaca orang memang terjemahan, tapi ada bahasa aslinya yaitu dalam bahasa Ibrani (Perjanjian Lama) dan Yunani (Perjanjian Baru). Dan sebetulnya tidak terlalu beda antara menerjemahkan Alkitab sebagai Kitab Suci dengan buku biasa. Sedikit kesalahan penerjemahan mungkin saja ada dan manusiawi, tetapi sejauh ini para pelajar Alkitab pun selalu mereferensikan terjemahan dengan bahasa aslinya. Jadi perkataan dalam terjemahan yang berbeda mungkin berbeda, tetapi makna dan pesan yang ingin disampaikan tetap sama. Terjemahan itu perlu, kalau tidak, Alkitab jadi kitab yang tak terpahami oleh sebagian besar orang di dunia.
Contoh, aku ambil 2Tim 3:15:
Yunani asli: Kai [Dan] hoti [bahwa] apo [sejak] brephous [kecil, bayi] ta hiera [suci] grammata [kitab, tulisan-tulisan] oidas [engkau sudah mengetahui, mengenal] ta dunamena [yang dapat, mampu] se [engkau] sophizai [membuatmu bijaksana, memberimu hikmat, mengajarmu] eis [kepada] sôtêrian [keselematan] dia [melalui] pisteôs [iman] tês [yaitu] en [dalam] Christô [Kristus] Iêsou [Yesus].
Inggris (King James Version): And that from a child thou hast known the holy scriptures, which are able to make thee wise unto salvation through faith which is in Christ Jesus.
Inggris (International Standard Version): From infancy you have known the Holy Scriptures that are able to give you the wisdom you need for salvation through faith in Christ Jesus.
Inggris (Good News): And you remember that ever since you were a child, you have known the Holy Scriptures, which are able to give you the wisdom that leads to salvation through faith in Christ Jesus.
Indonesia (Terjemahan Baru): Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.
Indonesia (Sehari-hari): Engkau harus ingat bahwa sejak kecil engkau sudah mengenal Alkitab. Alkitab itu dapat memberikan kepadamu pengertian untuk mendapat keselamatan melalui iman kepada Kristus Yesus.
Dari kutipan di atas memang ada perbedaan, tetapi perbedaan itu tidak mengubah makna pesan yang disampaikan. Perlu diketahui juga bahwa Alkitab Bahasa Indonesia diterjemahkan bukan dari bahasa Inggris tetapi langsung dari bahasa asli.
Dan kalau ada yang menyebut "tak terhitung", lucu sekali… revisi memang ada, tapi bukan revisi total yang sampai mengubah ajaran atau ideologi yang terkandung, dan kalau disebut tak terhitung, jelas berlebihan.
"Sejarah tidak pernah punya versi pasti buku itu"…. Secara sejarah, keaslian Alkitab dapat dipertanggungjawabkan. Kita punya lebih dari 24.000 manuskrip tua Perjanjian Baru, yang beberapa berumur sampai setua abad ke-2 dan ke-3 Masehi.
Sebagai perbandingan, Annals of Imperial Rome, dipercayai oleh para sejarawan sebagai tulisan asli Tacitus, sejarawan Romawi pada awal abad ke-2. Padahal enam kitab pertamanya hanya tersedia satu copy, satu manuskrip saja, dan itu disalin pada pertengahan abad ke-9. Kitab-kitab ke-7 sampai ke-10 telah hilang, dan kitab-kitab ke-11 sampai ke-16 terdapat dalam satu manuskrip lain yang ditulis pada abad ke-11! Contoh lain lagi, tulisan sejarawan abad pertama Yahudi Flavius Josephus yaitu The War of the Jews hanya ada 9 manuskrip, dan tulisan Yunaninya paling awal di abad ke-10. Jangan ditanya, mana tulisan asli Josephus?
Berarti dibandingkan dengan tulisan-tulisan sejarah lain, manuskrip Alkitab Perjanjian Baru jauh lebih banyak, dan keasliannya jauh lebih dapat dipercaya karena rentang waktu antara kejadian dan tulisan pun jauh lebih dekat daripada tulisan sejarah lainnya.
Pendek kata, tidak perlu terpengaruh apa kata Dan Brown dalam fiksinya… orang Kristen harus tetap percaya bahwa Alkitab adalah asli, karena Tuhan kita mampu menjaga Firman-Nya supaya tetap dapat diakses oleh manusia. Tapi aku tidak setuju kalau ada orang atau gereja yang bersikap berlebihan terhadap The Da Vinci Code, seperti melarangnya atau memberi fatwa haram segala. Sebagai hiburan, buku ini memang bagus kok. Asal jangan ditelan mentah-mentah sebagai kebenaran. Kalau tidak mengerti mana yang fiksi mana yang fakta, sebaiknya bertanya kepada yang mengerti, yang dapat meluruskannya.
Dalam antrian buku yang mau aku baca setelah The Da Vinci Code: Angels & Demons, juga dari Dan Brown, serta Harry Potter and the Half-Blood Prince (Harry Potter 6).