I’m a CISA!

October 27th, 2005 by markpe

Hari ini sertifikat CISA-ku datang… senangnya…

Informasi lebih lanjut tentang CISA: http://www.isaca.org/cisa/

Menjelang lebaran aku udah beli beberapa DVD serial Star Trek. Ada Enterprise season 1 dan 2, Voyager season 2 dan 3. Lumayan deh…

1 ons bukan 100 gram?

September 29th, 2005 by markpe

Sudah beberapa kali saya menerima email yang subjeknya "1 ons bukan 100 gram, harap beritahu anak2 terutama yang masih SD". Isinya sangat menggurui, berkesan bahwa orang Indonesia itu bodoh, menggunakan ukuran yang salah kaprah dan hasilnya sangat berbahaya karena bisa fatal jika meracik obat dan sebagainya.

Sebetulnya benarkah 1 ons (ounce) itu bukan 100 gram? Seperti 1 pon bukan 500 gram? Kita sering diajari di SD bahwa 1 pon itu 500 gram, tetapi biasanya kemudian diralat di SMP atau SMA, bahwa sebetulnya 1 pon (pound) itu 453.59237 gram, dan 500 gram hanyalah pendekatan. Anak SD kan bingung kalau dikasih banyak angka di belakang koma.

Ini semua karena manusia yang budayanya berbeda menggunakan satuan yang berbeda, tetapi ternyata parahnya, budaya yang berbeda itu bisa menggunakan nama yang sama untuk satuan yang ukurannya berbeda!

Tentang ounce misalnya… beberapa bahan dari Internet:

http://www.answers.com/topic/ounce
http://en.wikipedia.org/wiki/Ounce
http://www.telusplanet.net/public/prescotj/data/viandier/viandier6.html

Saya sarikan:

  • 1 avoirdupois ounce = 28.35 gram (seperti yang ditulis dalam email yang saya sebut di atas, meskipun penulisnya tidak menyebut avoirdupois)
  • 1 troy ounce = 31.1 gram. Ini satuan yang digunakan untuk menimbang emas! 1 ounce emas selalu 31.1 gram.
  • 1 paris ounce = 30.59 gram. Ini tampaknya tidak dipakai lagi.
  • 1 Imperial fluid ounce = 28.41 ml. Lho ml? Iya ini satuan volume, bukan massa.
  • 1 US fluid ounce = 29.57 ml.
  • 1 dutch ounce = 100 gram. Orang Belanda menyebutnya ons.

Nah, bukankah kita pernah dijajah Belanda? Tidak heran kalau "ons" kita juga sama dengan "ons" Belanda. Jadi perlukah kita memberi tahu anak-anak SD bahwa selama ini kita bodoh?

Lalu apakah 1 pon benar-benar bukan 500 gram? Coba lihat http://www.unc.edu/~rowlett/units/dictP.html:

pond [1]
the Dutch pound, historically about 494 grams (1.089 English pounds). This unit was also used in the former Dutch Indies (now Indonesia) and throughout Southeast Asia. In the Netherlands, the pond has been reinterpreted now as a metric unit equal to exactly 500 grams (1.1023 pounds), like the German pfund.

Biar lebih seru: sebarkan bahwa 1 ton bukan 1000 kilogram! Kita selama ini salah kaprah, karena orang Amerika sono ternyata kalau menyebut 1 ton ternyata… 907.18474 kilograms (lihat Google Calculator: http://www.google.com/search?q=1+ton+in+kg)

Bali

September 4th, 2005 by markpe

Aku baru balik dari Bali, 3 hari di sana nginap di Conrad Hotel Tanjung Benoa. Pergi cuma berempat: bersama istriku dan kedua anakku, Marcel dan Matthew. Baby sitter nggak dibawa. Akibatnya, bisa digambarkan hanya dengan satu kata: Sengsara! Bukannya menikmati liburan, malah jadi repot ngurusin keduanya.

However, karena anak-anak itu senang, ya aku juga senang. Buat aku membahagiakan mereka lebih penting daripada membahagiakan diri sendiri.

Harry Potter and the Half-Blood Prince

September 1st, 2005 by markpe

Selesai sudah aku baca buku Harry Potter ke-6: Harry Potter and the Half-Blood Prince. Warning: untuk yang belum baca dan berniat baca, posting ini spoiler!

Oh sudah baca ya? OK deh silakan melanjutkan….

Tragis, karena di akhir cerita, Dumbledore dibunuh oleh Snape dengan avada kedavra. Ini karena kepercayaan Dumbledore yang terlalu tinggi pada Snape. Dumbledore selalu percaya bahwa Snape ada di pihaknya, sementara sebetulnya Snape adalah anak buah Lord Voldemort yang berusaha untuk dipercaya oleh Dumbledore.

Kelanjutannya amat berat bagi Harry, yang harus menghancurkan 4 Horcruxes Lord Voldemort yang tersisa sebelum dapat mengalahkan (membunuh) Lord Voldemort.

Tapi aku punya teori nih untuk cerita berikutnya. Nggak tau benar atau nggak, coba dipikir ya….

Di buku berikutnya (Harry Potter 7), akan tersingkap bahwa Dumbledore dan Snape sebetulnya sudah membuat perjanjian. Snape selalu setia kepada Dumbledore. Dumbledore sudah mengatur pengorbanan dirinya (bersedia dibunuh), supaya Snape bisa memperoleh kepercayaan yang tinggi dari Lord Voldemort. Snape bersedia menerima tugas ini karena kesetiaannya kepada Dumbledore. Karena berhasil membunuh Dumbledore, Snape menjadi tangan kanan Lord Voldemort. Snape yang sekarang ada di markas Voldemort berusaha untuk membantu Harry Potter (diam-diam tentunya) untuk menghancurkan Horcruxes yang tersisa. Pada akhirnya Snape tetap terbukti ada di pihak yang baik, bahkan menjadi pahlawan, karena mungkin akan terbunuh dalam perjuangan menghancurkan Lord Voldemort. Peter Pettigrew (Wormtail) yang pernah diselamatkan oleh Harry dari kematian juga akan membalas budi Harry.

Baru dengan cara inilah kisah Harry Potter bisa berakhir dengan happy ending di buku ke-7 seperti sudah dijanjikan oleh J.K Rowling. Tanpa bantuan dari Snape dan Wormtail, cerita sulit akan berakhir di buku ke-7, kecuali kalau Rowling membuat kejutan dengan non-happy ending: Harry mati dan Lord Voldemort akhirnya menguasai dunia persihiran (bukan persilatan). Pembaca pun ramai-ramai menyerukan: "Boooooo…."

Ayo kita tunggu apakah teoriku ini benar atau tidak.

Gigi Susu

August 8th, 2005 by markpe

Hari ini pertama kali gigi anakku yang tertua, Marcel, copot. Kemarin malam giginya otek, dan aku juga cukup kaget, karena umurnya belum genap 6 tahun. Kok anak sekarang cepat sekali ya tanggal gigi susunya? Rasanya dulu gigi susuku mulai tanggal waktu di SD deh… tapi anakku juga besar sih badannya, dan beratnya sudah lebih berat daripada sekarung beras.

Marcel tadinya takut sekali giginya copot, tapi setelah dijelasin bahwa itu tanda dia sudah jadi anak besar, mulai bisa menerima. Dan akhirnya waktu copot di sekolah (tepatnya, dibantu gurunya karena giginya yang otek itu sakit terus), gurunya juga kasih tahu bahwa dia sudah jadi big boy, dan sekarang dia justru jadi senang dan bangga sekali.

Aku bersyukur kepada Tuhan, karena penyertaan-Nya selalu atas Marcel.

"As for me and my family, we will worship the LORD." (Joshua 24:15)

The Da Vinci Code

August 7th, 2005 by markpe

Karena sibuk sekali baik untuk pekerjaan, mengajar, dan mengurus keluarga, aku sekarang ini jarang baca buku. Tapi belum lama ini aku sudah menghabiskan buku The Da Vinci Code-nya Dan Brown yang kontroversial itu. Papiku tanya, "Buku apa itu?" Aku jawab, "Buku sesat." Hahaha… :)

Aku setuju buku ini memang bagus untuk karya fiksi, tapi yang jadi masalah, di bagian depan buku ditulis:

"FAKTA… semua deskripsi karya seni, arsitektur, dokumen, dan ritus rahasia dalam novel ini adalah akurat".

Ini membuat beberapa orang menganggap buku ini adalah "fiksi yang disusun atas dasar fakta". Tapi mana yang fakta, dan mana yang fiksi, batasannya tipis sekali, sehingga banyak pembaca yang menganggap yang fiksi adalah fakta.

Sudah banyak buku lain yang membahas yang mana yang fiksi maupun fakta dalam The Da Vinci Code, jadi tidak perlu terlalu panjang lebar di sini. Tapi aku mau menunjukkan bahwa beberapa yang seharusnya "fakta" ternyata malah "fiksi" karena tidak benar-benar akurat, seperti jumlah kaca jendela pada piramida terbalik di Louvre yang bukan 666 melainkan 673 (603 belahketupat dan 70 segitiga), kalau tidak percaya lihat di http://www.glassonweb.com/articles/article/94/

Terbukti bahwa Brown menyebut 666 untuk memberi bumbu sensasi, karena seperti ditulisnya pada buku itu, "permintaan aneh yang selalu menjadi topik panas di kalangan penggemar konspirasi yang menyatakan bahwa 666 adalah angka setan". Jadi kalau piramida itu saja sudah tidak akurat, apa lagi isi lainnya?

Sedikit komentar yang lebih rohani… dalam The Da Vinci Code bab 54:

… Teabing berdaham dan menyatakan, "Alkitab tidak datang dengan cara difaks dari surga."
"Maaf?"
"Alkitab adalah buatan manusia, Nona. Bukan Tuhan. Alkitab tidak jatuh secara ajaib dari awan. Orang membuatnya sebagai catatan sejarah dari hiruk-pikuk zaman, dan itu telah melibatkan penerjemahan, penambahan, dan revisi yang tidak terhitung. Sejarah tidak pernah punya versi pasti buku itu." …

Alkitab memang tidak datang dengan cara difaks dari surga, tidak ada ayat yang menyatakan hal itu! Alkitab memang ditulis oleh manusia, tetapi tidak sembarang manusia, tetapi manusia yang diilhami oleh Allah (Roh Kudus).

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. (2Tim 3:16)

Sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah. (2Ptr 1:21)

Dorongan ini juga tidak dilakukan Allah dengan cara memaksa atau mendikte, tetapi Roh Kudus membimbing para penulis dengan memanfaatkan keterampilan pribadi mereka sendiri. Alkitab tidak ditulis oleh satu orang tetapi banyak orang — mulai dari raja sampai nelayan — dalam kurun waktu ribuan tahun, dan semua tetap harmonis dan berfokus pada berita yang sama yaitu Yesus Kristus. Kalau tidak ada bimbingan dari Roh Kudus hal ini tidak mungkin!

"Penerjemahan, penambahan, dan revisi yang tak terhitung"… wah ini sudah tendensius dan berlebihan. Alkitab yang kebanyakan dibaca orang memang terjemahan, tapi ada bahasa aslinya yaitu dalam bahasa Ibrani (Perjanjian Lama) dan Yunani (Perjanjian Baru). Dan sebetulnya tidak terlalu beda antara menerjemahkan Alkitab sebagai Kitab Suci dengan buku biasa. Sedikit kesalahan penerjemahan mungkin saja ada dan manusiawi, tetapi sejauh ini para pelajar Alkitab pun selalu mereferensikan terjemahan dengan bahasa aslinya. Jadi perkataan dalam terjemahan yang berbeda mungkin berbeda, tetapi makna dan pesan yang ingin disampaikan tetap sama. Terjemahan itu perlu, kalau tidak, Alkitab jadi kitab yang tak terpahami oleh sebagian besar orang di dunia.

Contoh, aku ambil 2Tim 3:15:

Yunani asli: Kai [Dan] hoti [bahwa] apo [sejak] brephous [kecil, bayi] ta hiera [suci] grammata [kitab, tulisan-tulisan] oidas [engkau sudah mengetahui, mengenal] ta dunamena [yang dapat, mampu] se [engkau] sophizai [membuatmu bijaksana, memberimu hikmat, mengajarmu] eis [kepada] sôtêrian [keselematan] dia [melalui] pisteôs [iman] tês [yaitu] en [dalam] Christô [Kristus] Iêsou [Yesus].

Inggris (King James Version): And that from a child thou hast known the holy scriptures, which are able to make thee wise unto salvation through faith which is in Christ Jesus.

Inggris (International Standard Version): From infancy you have known the Holy Scriptures that are able to give you the wisdom you need for salvation through faith in Christ Jesus.

Inggris (Good News): And you remember that ever since you were a child, you have known the Holy Scriptures, which are able to give you the wisdom that leads to salvation through faith in Christ Jesus.

Indonesia (Terjemahan Baru): Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.

Indonesia (Sehari-hari): Engkau harus ingat bahwa sejak kecil engkau sudah mengenal Alkitab. Alkitab itu dapat memberikan kepadamu pengertian untuk mendapat keselamatan melalui iman kepada Kristus Yesus.

Dari kutipan di atas memang ada perbedaan, tetapi perbedaan itu tidak mengubah makna pesan yang disampaikan. Perlu diketahui juga bahwa Alkitab Bahasa Indonesia diterjemahkan bukan dari bahasa Inggris tetapi langsung dari bahasa asli.

Dan kalau ada yang menyebut "tak terhitung", lucu sekali… revisi memang ada, tapi bukan revisi total yang sampai mengubah ajaran atau ideologi yang terkandung, dan kalau disebut tak terhitung, jelas berlebihan.

"Sejarah tidak pernah punya versi pasti buku itu"…. Secara sejarah, keaslian Alkitab dapat dipertanggungjawabkan. Kita punya lebih dari 24.000 manuskrip tua Perjanjian Baru, yang beberapa berumur sampai setua abad ke-2 dan ke-3 Masehi.

Sebagai perbandingan, Annals of Imperial Rome, dipercayai oleh para sejarawan sebagai tulisan asli Tacitus, sejarawan Romawi pada awal abad ke-2. Padahal enam kitab pertamanya hanya tersedia satu copy, satu manuskrip saja, dan itu disalin pada pertengahan abad ke-9. Kitab-kitab ke-7 sampai ke-10 telah hilang, dan kitab-kitab ke-11 sampai ke-16 terdapat dalam satu manuskrip lain yang ditulis pada abad ke-11! Contoh lain lagi, tulisan sejarawan abad pertama Yahudi Flavius Josephus yaitu The War of the Jews hanya ada 9 manuskrip, dan tulisan Yunaninya paling awal di abad ke-10. Jangan ditanya, mana tulisan asli Josephus?

Berarti dibandingkan dengan tulisan-tulisan sejarah lain, manuskrip Alkitab Perjanjian Baru jauh lebih banyak, dan keasliannya jauh lebih dapat dipercaya karena rentang waktu antara kejadian dan tulisan pun jauh lebih dekat daripada tulisan sejarah lainnya.

Pendek kata, tidak perlu terpengaruh apa kata Dan Brown dalam fiksinya… orang Kristen harus tetap percaya bahwa Alkitab adalah asli, karena Tuhan kita mampu menjaga Firman-Nya supaya tetap dapat diakses oleh manusia. Tapi aku tidak setuju kalau ada orang atau gereja yang bersikap berlebihan terhadap The Da Vinci Code, seperti melarangnya atau memberi fatwa haram segala. Sebagai hiburan, buku ini memang bagus kok. Asal jangan ditelan mentah-mentah sebagai kebenaran. Kalau tidak mengerti mana yang fiksi mana yang fakta, sebaiknya bertanya kepada yang mengerti, yang dapat meluruskannya.

Dalam antrian buku yang mau aku baca setelah The Da Vinci Code: Angels & Demons, juga dari Dan Brown, serta Harry Potter and the Half-Blood Prince (Harry Potter 6).

Lulus!

July 29th, 2005 by markpe

Lama juga nggak update blog ya… habis pulang sudah malam dan capek.

Hari ini aku dapat email dari ISACA, yang isinya kabar gembira. Aku lulus ujian CISA! Puji Tuhan. Nggak sia-sia bersusah payah belajar untuk ujian. :)

Bersin-bersin!

June 14th, 2005 by markpe

Aneh banget deh… tadi pagi bisa hujan… haree genee kok hujan? Ini kan udah bulan Juni…

Akibatnya AC kantor jadi dingin banget, dan aku jadi pilek nih. Bersin-bersin terus. Padahal besok banyak appointment lagi. Waahhh… :(

Akhirnya Bikin Blog juga…

June 12th, 2005 by markpe

Wahhh… akhirnya aku bikin blog juga. Udah cukup lama juga nggak ngecek Friendster, eh ternyata sudah banyak friend yang punya blog… so ikutan bikin juga deh.

Minggu ini capek banget. Belajar mati-matian untuk ujian CISA Sabtu 11 Juni kemarin. Ini ujian yang terkenal sangat sulit, dengan tingkat kelulusan yang sangat rendah (katanya sih di Indo cuman 20-30 persenan). Seminggu sebelumnya juga aku kurang tidur karena persiapin training hari Senin-Kamis… aduh terpaksa dibantu kafein… hehehe…. Ya kurang lebih 2 minggu deh nggak efektif ngecek email. Untung di training itu saya cuma perlu ngisi Senin dan Kamisnya saja, jadi hari Selasa-Rabu bisa belajarrrr.

"Tiada kesenangan selain belajar". Hehehe….

Dan puncaknya, ujian CISA kemarin di JIS Terogong. Tempatnya nggak memuaskan. Peserta disuruh kumpul jam 7.30 pagi, aku datang jam 7… kok di gerbang JIS rame banget. Ternyata satpam pada ngusir-ngusirin mobil. "Maaf Pak, parkirnya di dua gedung samping sebelah aja…" Lho. Wong udah bayar mahal buat ikut ujian kok nggak boleh masuk. Ternyata nggak ada satu pun mobil peserta yang boleh masuk ke JIS, karena takut teror… walah… kok takut sama calon IS Auditor, kumaha ieu euy. Terus aku ya terpaksa cari parkir… jalan sampai ke Hotel Kristal nggak dapat juga, terus balik ke arah JIS dan protes ke satpam JIS. Kata satpamnya, "Parkir di Tirta Marta aja". Ya sudah. Di Tirta Marta, satpamnya komplain juga. "Gimana nih JIS, ada ujian kok nggak koordinasi sama kita di sini. Kalau ngadain ujian ya masa nggak boleh parkir di dalam, malah nyuruh parkir di tempat orang. Kalau kita yang ngadain acara, mau parkir di tempat mereka, nggak dikasih…" hahahaha…

Terus, masuk ke JIS dengan screening yang cukup ketat. Wah ternyata banyak banget yang ikut ujian. Ketemu Mas Eko Indrajit juga di situ, ikut ujian juga dia. Kalau mau masuk ke ruang ujian, diperiksain tanda pengenal yang berfoto untuk memastikan kita bukan joki. Untung tampangku nggak ada perubahan dari KTP, hahaha. Dan namanya harus sama dengan KTP.

Anehnya lagi, pensil yang dipakai dalam ujian kok HB (Number 2), bukan 2B. Di tiket ujian juga tulisannya begitu. Tapi kayanya sih 2B bisa juga. Aku sih pake pensil pinjaman dari Al, peserta lain. Mungkin OMR di US pakenya HB ya? Pengawas pada pinjamin pensil HB sih ke peserta.

Lalu, ujian 4 jam… wahhh capekkkk… 200 soal. Angka kelulusan 75, jadi maksimum kesalahan cuman 50. Ya rasanya sih aku udah berusaha jawab yang terbaik, dan cukup banyak juga yang aku yakin jawabannya benar… Aku juga udah berdoa dulu…. Benar-benar uji ketahanan duduk lama. Rasa mau pee, lapar, campur aduk tapi bisa diatasi oleh keinginan untuk menyelesaikan semua soal. Akhirnya aku baru sampai di rumah jam 3 sore, belum makan.

Pengumuman kelulusan masih lama, jadi ya sabar aja… Tadi siang di gereja khotbahnya Pdt. Eras kok cocok banget… "Kalau sudah dapat kedudukan, jangan sombong, tetap rendah hati…" Ya itu juga doaku kemarin. Kalau aku lulus CISA, semuanya dipersembahkan untuk kemuliaan Tuhan, dan aku tidak mau meninggikan diri. Stay low profile…. Kalau nggak lulus, ya tetap puji Tuhan!

Have the same attitude among yourselves that was also in Christ Jesus:
    
     In God’s own form existed he,
     And shared with God equality,
          Deemed nothing needed grasping.
     Instead, poured out in emptiness,
     A servant’s form did he possess,
          A mortal man becoming.
     In human form he chose to be,
     And lived in all humility,
          Death on a cross obeying.
     Now lifted up by God to heaven,
     A name above all others given,
          This matchless name possessing.
     And so, when Jesus’ name is called,
     The knees of everyone should fall
          Where’er they are residing.
     Then every tongue in one accord
     Will say that Jesus Christ is Lord,
          While God the Father praising.

(Philippians 2:4-11 ISV)